• Latest
  • All
  • Artikel
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum

Mahasiswa UNJA Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT TPL, Desak Pemerintah Ambil Sikap Tegas

14/05/2025

Fahrul Ilmi Minta Kebijakan WFH di Tengah Kabut Asap yang Semakin Pekat

22/10/2026

Armada Patroli Minim, DPRD Kota Jambi Khawatir Mobilitas Satpol PP Jambi Terganggu Saat Respons Laporan Warga

30/09/2026

DPRD Jambi Soroti Gizi Siswa Miskin: Jangan Cuma Edukasi, Beri Bantuan Makanan Bergizi

29/09/2026

Maulana Bagikan Praktik Kampung Bahagia, Tekankan Partisipasi dan Gotong Royong dalam Pembangunan

25/09/2026

Jelang Healthy Cities Summit 2026, Pemkot Jambi Bekali 500 Lebih LO untuk Sukseskan Penyelenggaraan

25/09/2026

Pemkot Jambi Serahkan Santunan JKM Rp42 Juta kepada Ahli Waris Ketua RT 54

24/09/2026

Pemkot Jambi Perkuat Perlindungan Hukum bagi UMKM dan Pelaku Ekonomi Kreatif

24/09/2026

DPRD Kota Jambi Soroti Dugaan Penolakan Pasien BPJS di RS Siloam, Komisi IV Siapkan Langkah Lanjutan

23/09/2026

Polemik Zona Merah 5.506 Sertifikat Warga Terdampak, DPRD Kota Jambi Desak Kepastian Hukum

23/09/2026

Komisi III DPRD Kota Jambi Sepakati Penataan Shelter Molby

23/09/2026
Nusa Melaka
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL
Nusa Melaka
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL
Home Daerah

Mahasiswa UNJA Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT TPL, Desak Pemerintah Ambil Sikap Tegas

by Mimin
14/05/2025
in Daerah
0

TAJOM.ID, JAMBI – Rijal Lumban Gaol, mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) menyatakan keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan yang terus meluas di kawasan Tanah Batak. Ia menyoroti aktivitas PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan yang telah beroperasi sejak 1983 di Provinsi Sumatera Utara, sebagai penyebab utama krisis ekologis di wilayah tersebut.

Kerusakan yang ditimbulkan, antara lain berupa banjir bandang, tanah longsor, pencemaran tanah, air, dan udara, hingga hilangnya lahan produktif milik masyarakat adat. Dampak tersebut, menurut Rijal, semakin hari semakin parah dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal.

Gelombang penolakan terhadap PT TPL pun terus disuarakan oleh para aktivis dan kelompok peduli lingkungan dengan slogan “Tutup TPL” sebagai bentuk solidaritas atas kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 307/Menlhk/Setjen/HPL.0/7/2020, PT TPL menguasai konsesi hutan seluas 167.912 hektare. Namun di lapangan, wilayah konsesi ini masih kerap tumpang tindih dengan lahan adat, memicu konflik berkepanjangan.

“Saya sebagai putra Tanah Batak sangat prihatin atas kerusakan yang ditimbulkan oleh PT TPL yang beroperasi di berbagai daerah. Banyak pihak telah dirugikan, termasuk masyarakat adat seperti Sorbatua Siallagan dari Sihaporas, Dolok Parmonangan, yang harus berhadapan dengan pengadilan karena menyuarakan penolakan terhadap TPL,” kata Rijal.

Ia juga menyinggung sejumlah bencana dan konflik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seperti banjir di Tapanuli Utara (30 Desember 2024), tanah longsor di Bakkara (2 Desember 2023), serta konflik agraria di Kecamatan Parlilitan.

Kasus kekerasan dan pemblokiran akses hutan adat oleh PT TPL terhadap masyarakat adat Nagasaribu Onan Harbangan dan Pohan Jae, Kecamatan Siborongborong, juga disebut sebagai bukti nyata dari ketimpangan relasi antara korporasi dan warga.

“Kami sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo, untuk menindaklanjuti persoalan ini. Apalagi beliau mengusung konsep ekonomi hijau dalam delapan Asta Cita yang dicanangkan,” tegas Rijal.

Ia juga menyatakan dukungannya terhadap perjuangan para aktivis lingkungan, termasuk suara tegas dari Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan, LSM, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil yang menolak keberadaan PT TPL.

Meski PT TPL disebut telah memberikan lapangan kerja bagi sebagian warga, Rijal menilai hal tersebut tidak sebanding dengan kerusakan ekologis yang terjadi di kawasan Danau Toba.

“Maka dari itu, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat adat Batak untuk bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap TPL. Jangan takut bersuara. Tanah ini milik kita, bukan milik TPL,” seru Rijal.

Melalui media sosial, Rijal mengajak masyarakat luas untuk menyuarakan keprihatinan yang sama. Ia menutup pernyataannya dengan slogan: “Arga do Bona Ni Pinasa Di Akka Na Bisuk Marroha”—yang berarti: jika kita mencintai rumah kita, sudah sepatutnya kita bersatu melawan pihak-pihak yang merusaknya. (*)

Tags: Toba Pulp LestariTUTUP TPL
Share201Tweet126SendScan
Previous Post

Lagi, GBRK Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi 20 Miliar Proyek Rehabilitasi Masjid Agung Tanjabtim

Next Post

AMEIZING DEAL! 2 Unit Terakhir Ruko Premium di Jambi Business Center, Cuma Rp1,99 M Selama Mei !

Related Posts

No Content Available
Next Post

AMEIZING DEAL! 2 Unit Terakhir Ruko Premium di Jambi Business Center, Cuma Rp1,99 M Selama Mei !

Kunjungi Polres Bungo, Kapolda Jambi Dorong Inovasi dan Perangi Narkoba

Mantap ! Waka DPRD Kota M Yasir Dukung Pembentukan Koperasi Merah Putih

Musoprov Koni Jambi Deadlock : Koni Pusat Ambil Kendali

Pemprov Jambi jalin kerja sama dengan FAO deteksi penyakit ikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Arsip

Kalender

November 2026
SSRKJSM
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30 
« Okt    
Nusa Melaka

Copyright © 2025 NusaMelaka.com

  • Beranda
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Tentang Kami
  • Perlindungan

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL

Copyright © 2025 NusaMelaka.com