• Latest
  • All
  • Artikel
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum

‎Antara Efisiensi Anggaran dan Gairah Entertainment Kepala Daerah Berkedok Kirab Budaya

13/11/2025

Fahrul Ilmi Minta Kebijakan WFH di Tengah Kabut Asap yang Semakin Pekat

22/10/2026

Armada Patroli Minim, DPRD Kota Jambi Khawatir Mobilitas Satpol PP Jambi Terganggu Saat Respons Laporan Warga

30/09/2026

DPRD Jambi Soroti Gizi Siswa Miskin: Jangan Cuma Edukasi, Beri Bantuan Makanan Bergizi

29/09/2026

Maulana Bagikan Praktik Kampung Bahagia, Tekankan Partisipasi dan Gotong Royong dalam Pembangunan

25/09/2026

Jelang Healthy Cities Summit 2026, Pemkot Jambi Bekali 500 Lebih LO untuk Sukseskan Penyelenggaraan

25/09/2026

Pemkot Jambi Serahkan Santunan JKM Rp42 Juta kepada Ahli Waris Ketua RT 54

24/09/2026

Pemkot Jambi Perkuat Perlindungan Hukum bagi UMKM dan Pelaku Ekonomi Kreatif

24/09/2026

DPRD Kota Jambi Soroti Dugaan Penolakan Pasien BPJS di RS Siloam, Komisi IV Siapkan Langkah Lanjutan

23/09/2026

Polemik Zona Merah 5.506 Sertifikat Warga Terdampak, DPRD Kota Jambi Desak Kepastian Hukum

23/09/2026

Komisi III DPRD Kota Jambi Sepakati Penataan Shelter Molby

23/09/2026
Nusa Melaka
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL
Nusa Melaka
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL
Home Opini

‎Antara Efisiensi Anggaran dan Gairah Entertainment Kepala Daerah Berkedok Kirab Budaya

by Mimin
13/11/2025
in Opini
0

Oleh: Fadhil Ikhsan Mahendra

TAJOM.ID, JAMBI – Kata “efisiensi” kini menjadi alibi baru di ruang birokrasi daerah. Setiap pemangkasan anggaran untuk pendidikan, kesehatan,pelayanan publik, dan pembangunan selalu dibungkus dengan alasan klasik, rasionalisasi fiskal atau efisiensi anggaran. Tapi ironisnya, di balik dalih penghematan itu, panggung entertainment kepala daerah terus digelar, seperti festival, kirab budaya hingga beragam seremonial yang dampak nya tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang di lontarkan untuk pelaksanaan agenda demikian.

‎Inilah paradoks yang menampar nalar publik. Kepala daerah berbicara tentang kesederhanaan, namun memerintah dengan kemewahan.

‎Efisiensi dijadikan tameng, sementara praktik pemborosan tetap berjalan di balik nama “kearifan lokal” dan “pelestarian budaya”. Padahal publik tahu yang sering dilestarikan bukan budayanya, melainkan panggung politik pencitraannya.

‎Dalam kerangka tata kelola pemerintahan, efisiensi bukan hanya soal angka di laporan keuangan, melainkan soal etik dan logika kebijakan. Prinsip efisiensi mengandung kewajiban moral untuk memastikan setiap rupiah kembali kepada kepentingan rakyat. Tetapi hari ini, banyak kepala daerah justru mengartikannya secara terbalik, hemat untuk rakyat, boros untuk pejabat.

‎Fenomena “entertainment politik” ini tumbuh subur karena dua hal : pertama, lemahnya mekanisme kontrol publik kedua, budaya politik yang menganggap kekuasaan sebagai panggung, bukan mandat. Akibatnya, arah pembangunan bergeser dari kebutuhan rakyat ke kebutuhan citra.

‎Setiap kegiatan seremonial menjadi strategi komunikasi politik terselubung, pencitraan yang dibiayai oleh penderitaan fiskal.

‎Pertanyaannya sederhana, Jika efisiensi benar dijalankan, mengapa kegiatan simbolik tetap menjadi prioritas?

‎Jika rakyat diminta berkorban, mengapa pejabat tidak memberi teladan penghematan? Jika kirab budaya diklaim sebagai promosi daerah, di mana laporan akuntabilitasnya, siapa yang diuntungkan, dan apa dampak nyatanya bagi rakyat kecil?

‎Kritik ini bukan penolakan terhadap budaya, melainkan penegasan terhadap etika publik. Budaya adalah nilai, bukan alat pencitraan. Ketika budaya dipentaskan di bawah lampu panggung kekuasaan, dengan anggaran besar, ia kehilangan makna menjadi sekadar dekorasi politik.

‎Efisiensi tanpa kejujuran adalah propaganda, dan penghematan tanpa prioritas rakyat hanyalah sandiwara administratif.

‎Pemerintahan yang sehat bukan diukur dari seberapa sering menggelar acara, tetapi dari seberapa berani menolak pemborosan.

Penulis Merupakan ‎Koordinator Aliansi BEM Nusantara daerah Jambi

Tags: Efisiensi AnggaranGairah EntertainmentKirab Budaya
Share197Tweet123SendScan
Previous Post

Hanya Dalam Setahun, Edi Purwanto Sudah Berhasil Realisasikan Sejumlah Program Ke Rakyat Jambi

Next Post

Viral Dugaan Hubungan Terlarang, Kasus PJU Polda Jambi Didemo di Mabes Polri

Related Posts

No Content Available
Next Post

Viral Dugaan Hubungan Terlarang, Kasus PJU Polda Jambi Didemo di Mabes Polri

HUT ke-11 PSI: Romi Hariyanto Tegaskan PSI Bukan Partai Golongan Tertentu

Wali Kota Jambi Maulana Siap Terapkan Pembelajaran KPPD untuk Percepatan Transformasi Pembangunan Daerah

Perbandingan: “Sangkuriang” dan “Batu Menangis” dengan Psikoanalis Freud

BEM Nusantara Jambi Gelar Temu Daerah Pertama, Tegaskan Komitmen Perkuat Solidaritas dan Gerakan Perubahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Arsip

Kalender

November 2026
SSRKJSM
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30 
« Okt    
Nusa Melaka

Copyright © 2025 NusaMelaka.com

  • Beranda
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Tentang Kami
  • Perlindungan

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • Peristiwa
  • OPINI
  • ARTIKEL

Copyright © 2025 NusaMelaka.com